Minggu, 03 Februari 2013

Cerita Dewasa Kisah Nyata | Janji yg Tertunda





Cerita Dewasa Kisah Nyata | Janji yg Tertunda ~ Selepas Makan Siang, telepon genggamku bergetar hebat, menampilkan nomor +62266xxxxx di layarnya. 0266, dari kota manakah itu ? Pikirku dalam hati. Dengan hati-hati kutekan tombol “Answer”, lalu terdengar suara halus dari ujung sebelah sana.
“Kang, ini Euis (bukan nama asli). Masih ingat ? …”.
Jantungku seakan berhenti mendengar nama itu. Dari mana dia tahu nomor telepon genggamku ini ? Segera berkelebat bayangan dalam pikiranku, bagaimana ia kuperawani satu minggu yang lalu, di sebuah penginapan di Selabintana. Mukanya yang manis, tubuhnya yang mungil dan seksi, dan matanya yang menatapku lekat-lekat sambil berlinang air mata saat kegadisannya kurenggut malam itu.
“Ee, tentu masih dong. Apa kabar ? Gimana juga khabar Nyai ? …”
jawabku dengan suara yang kubuat setenang mungkin.
“Baik Kang, kok nanyain Nyai terus sih ? …”
lanjutnya dengan nada suara yang kurang senang.
“Kang, kapan mampir ke sini lagi, Euis kangen ingin ketemu lagi dengan akang …” lanjutnya. Aku tersentak menyadari akan keadaan yang sulit dan serba salah, yang akan kuhadapi selanjutnya. Kangen ? Ini bahaya, ini tidak boleh terjadi. Aku selalu berusaha untuk tidak meninggalkan kesan mendalam dalam setiap petualangan-petualangan nakalku. Aku tidak ingin terlibat lebih lanjut dengan gadis dan wanita yang pernah berhubungan denganku. Tubuh dan nafsuku mungkin saja kuumbar dan dimiliki sesaat oleh beberapa gadis dan wanita, tapi hati dan cintaku hanya untuk istriku seorang. Aku memang egois, seperti kaum laki-laki pada umumnya. Ingin kuputuskan komunikasi ini, tapi tidak tega. Bagaimanapun, gadisku ini sudah berkorban dengan menyerahkan miliknya yang sangat berharga padaku. Aku masih punya sedikit rasa untuk tidak “mencampakkan” dia begitu saja. Mungkin saja kata kangen itu hanyalah selubung dari maksud-maksud lain dibaliknya, kebutuhan akan materi misalnya. Mungkin saja lembaran yang kusisipkan ke dalam tas sekolahnya saat itu dianggap belum cukup untuk menebus apa yang telah ia berikan padaku. Dan beberapa kata mungkin lain yang muncul bergantian dalam pikiranku. Aku sampaikan padanya bahwa nanti sore aku akan berangkat ke ibu kota melalui kotanya, untuk menghindari kemacetan di jalur Puncak. Aku sampaikan juga kemungkinan untuk bisa bertemu dengannya, setelah sampai ke kotanya nanti malam. Euis memberiku sebuah nomor yang dapat kuhubungi, nomor yang dikeluarkan oleh salah satu operator selular di negeri ini.

Selepas jam kantor dan sedikit persiapan di rumah, akupun mengarahkan mobil kecil biruku meninggalkan kota tempat tinggalku. Kekuatan dan kecepatan mesinnya yang dahsyat tidak kumanfaatkan kali ini. Aku ingin santai sambil menikmati perjalanan. Mataku yang terlatih melirik kekiri dan kekanan sepanjang perjalanan, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa membawaku ke petualangan dan pengalaman lain yang mendebarkan. Kondisi lalu lintas yang lancar membuat perjalananku kali ini tidak menemui hambatan yang berarti. Saat adzan Magrib berkumandang, aku telah sampai di kota Cianjur untuk sejenak beristirahat sambil menikmati minuman ringan yang dingin. Aku masih menimbang-nimbang untuk menentukan arah mana yang akan kuambil, lewat Puncak atau Sukabumi. Ingatanku pada Euis menjadi salah satu alasan hingga aku memilih jalur alternatif kedua. Siapa tau aku bisa melanjutkan petualangan dengannya lagi. Nafsuku bangkit seketika, membuat kemaluanku membesar dan mengeras. Cukup menyakitkan di balik celana Jeansku yang cukup ketat. Kuambil minuman energy dari lemari es sebelum kutinggalkan toko itu. Siapa tau aku membutuhkan energy “lebih” malam ini. Dengan kecepatan penuh, kuarahkan mobilku menuju kota Sukabumi.

Beberapa kilometer menjelang masuk kota, kucari nama Euis dari dalam Address Book telepon genggamku, lalu kuhubungi. Kamipun sepakat untuk bertemu di toko “Y…”, salah satu swalayan besar dan terkenal yang ada di kota itu. Suaranya yang halus dan ceria membuatku tidak sabar untuk segera menemuinya. Kutekan pedal gas mobilku dalam-dalam, membuatnya berlari dengan kecepatan sangat tinggi. Sampai di tujuan, kuparkir mobilku di tempat yang mudah untuk keluar, lalu akupun masuk ke dalam toko yang besar dan sangat ramai itu. Diantara keramaian orang yang akan berbelanja atau sekedar berjalan-jalan, kulihat Euis berdiri sendirian sambil membaca tabloid remaja. Malam itu Euis mengenakan kaos ketat berwarna merah dipadukan dengan celana Jeans biru, serasi dengan kulitnya yang tidak terlalu putih. Lekuk tubuhnya yang ramping dan seksi semakin jelas terlihat. Ia membawa Travelling Bag yang tidak terlalu besar, yang digeletakkan di lantai sebelah kakinya. Kuhampiri dia lalu kutegur.
“Ech, Kang… kok lama sekali ?…“
tanyanya manja. Kucium keningnya, kuambil tasnya lalu kulingkarkan tanganku di pinggangnya menuju Food Court. Kami berdua menyantap makan malam sambil saling bercerita kesana kemari. Setelah kuperhatikan lebih seksama, Euis memiliki mata yang sangat indah. Mata yang bening dan berbinar-binar itu sering kudapati menatapku lekat-lekat, entah apa yang ada dalam pikirannya. Dari pembicaraan, kuketahui bahwa dia sudah pamit pada kedua orang tuanya untuk kembali ke Bogor. Alasannya adalah ingin menyiapkan diri sebelum kembali ke sekolah hari Senin yang akan datang. Dia memintaku untuk mengantarkannya ke tempat kostnya di kota Bogor, yang tentu saja langsung kusanggupi dengan senang.

Dalam perjalanan, Euis lebih banyak diam. Sesekali dia mengusap pipiku, kepalaku, sambil berkata :
“Euis kangen Kang …”
Kalimat yang membuat hatiku kembali khawatir. Petualangan ini sudah mulai membahayakan pikirku. Euis juga bercerita bahwa dia tidak dapat melupakan apa yang terjadi di malam itu. Ia sama sekali tidak menyesal, malah dengan terus terang dia mengatakan ingin mengulanginya lagi suatu waktu. Sudah ketagihan rupanya. Di satu ruas jalan yang cukup sepi, ia mencuri cium bibirku sambil berkata :
“Kang, maukah menemani Euis malam ini ? …”
tanyanya, membuat birahiku bangkit membuat kemaluanku mengeras dan membesar. Sambil tersenyum, kutatap dia sambil bertanya :
“Dimana kita akan menginap malam ini ? …”
yang dijawabnya dengan :
“terserah, Kang …”.
Terbayang sudah di dalam pikiranku tubuh ramping telanjang yang tergeletak pasrah, siap menerima serbuan kenikmatan yang akan kuberikan. Kuaktifkan telepon selularku menghubungi rumah mertuaku, untuk memberi khabar bahwa aku batal datang malam ini. Sambil terus berusaha konsentrasi untuk mengarahkan mobilku, otakku bekerja keras mencari dimana kira-kira tempat yang nyaman dan aman untuk menginap malam ini. Ada dua alternatif yang terbersit dalam pikiranku, LIDO atau sekalian di kota Bogornya. Yang pasti, aku tidak ingin melakukannya di tempat kost, untuk menghindari hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi. Karena LIDO penuh di akhir minggu, aku memutuskan untuk menuju ke Hotel “P….” di Bogor, yang sudah mendapat konfirmasi kamar setelah kuhubungi melalui telepon. Kutekan pedal gas dalam-dalam, membuat mesin 1600cc menggerung keras dan berlari dengan kecepatan sangat tinggi.

Setelah melalui prosedur Check-In seperti biasanya, sampailah kami dalam kamar di Lantai 5 Hotel bintang tiga yang cukup megah di Kota hujan ini. Setelah memberi tip sekedarnya pada RoomBoy yang mengantar, segera kupeluk dia sambil tetap berdiri dan kucium bibirnya penuh nafsu. Dengan nafas memburu, Euis membalas ciumanku sama ganasnya. Lidahnya yang kasar dan hangat menyapu rongga mulutku, membuat nafsu birahi semakin tinggi. Kumasukkan tanganku menyusup ke bawah kaos merahnya, menyapu kulit punggungnya yang halus. Kutelusuri kulit punggungnya yang halus dari kiri ke kanan, atas ke bawah, sangat perlahan dan hati-hati. Dalam hati aku berniat untuk memberikan kenikmatan yang tidak akan pernah ia lupakan, beberapa kali, berulang-ulang malam ini. Klik, tanganku yang terlatih berhasil melepas pengait BH-nya. Lalu tanpa kesulitan yang berarti, kuloloskan kaos merah ketat itu dari tubuhnya yang kemudian langsung kulempar jauh-jauh entah kemana. Kudengar nafasnya semakin memburu dan mulai terdengar rintihan-rintihan lemah di antara pergumulan dua lidah yang saling berkait dan memilin. Kulihat matanya terpejam, membuat bulu matanya yang lentik teranyam indah.
“Euis sayang, kita mandi dulu yuk …”
kataku, yang dijawab dengan anggukan dan senyum manis. Aku tidak ingin terganggu oleh bebauan yang kurang sedap dari kewanitaannya saat bercinta nanti. Sambil berpelukan, kami menuju kamar mandi.

Sesuai standar hotel bintang tiga pada umumnya, ruang kamar mandi yang cukup besar itu tertata sangat rapi, bersih dan wangi, dilengkapi dengan BathTub dan air hangat. Kusumbat lubang pembuangan air, kemudian kubuka besar-besar kran air panas dan dingin, untuk mengisi BathTub dengan air. Otakku bekerja mencari-cari apa yang akan kulakukan terhadap Euis selama mandi berendam nanti. Kulihat Euis sudah membuka Jeans dan celana dalamnya, menampilkan tubuh mungil dan seksi dalam keadaan telanjang bulat. Dengan takjub kuperhatikan payudaranya yang baru tumbuh dengan putting yang coklat kehitaman. Belum terlalu besar tetapi terlihat kencang dan kenyal. Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang belum terlalu banyak, sungguh membuat kepalaku berdenyut-denyut menahan nafsu. Ia menghampiriku, kemudian membuka kancing kemejaku satu persatu. Dengan perlahan, dibukanya pengait ikat pinggangku, kancing celana jeansku, lalu diturunkannya retsluiting perlahan-lahan. Aku melepas kemeja dan baju dalamku, sementara Euis menurunkan celana jeansku, sekalian dengan celana dalamnya. Kemaluanku langsung mengacung keras, mempertontonkan kepalanya yang merah muda mengkilat beserta tonjolan otot-ototnya yang kehitaman. Dalam keadaan masih berjongkok, kulihat Euis menatap kebanggaanku itu dengan ekspresi muka yang tidak kumengerti. Sebenarnya aku ingin segera memasukkannya ke dalam mulut gadisku itu, dan membiarkannya melahap dan menjilatinya. Tapi kutahan karena belum bersih dan mungkin berbau kurang sedap. Kutarik Euis untuk berdiri, lalu kembali kuciumi bibirnya dan kutelusuri rongga mulutnya dengan lidahku. Euis kembali menikmatinya sambil menutup mata dan merintih perlahan,
“eegghh …”.
Sambil tetap berciuman, kubimbing dia mendekati BathTub lalu masuk ke dalamnya. Air yang agak terlalu hangat membuat kemaluanku terasa ngilu, membuatnya sedikit melemas dan mengkerut. Kami saling menyabuni, sambil sesekali berciuman. Aku belum ingin melakukan apapun terhadapnya, selain memeluk dan menciumnya dalam-dalam.

Setelah hampir satu jam berendam, kami sepakat untuk selesai. Air hangat membuat tubuh kami terasa segar dan bersih. Ia mengambil handuk, kemudian mulai membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Dengan nakal ia menggodaku. Sambil menghanduki kemaluanku, diremasnya agak keras membuatku berteriak kaget. Seiring dengan bangkitnya nafsu, kemaluanku langsung membesar dan mengeras. Kurebut handuk dari tangannya, kemudian kuhanduki tubuhnya dengan tergesa-gesa. Kucium bibirnya sambil kugendong tubuhnya yang mungil keluar kamar mandi. Kuhempaskan Euis ke atas tempat tidur yang empuk dan besar, kemudian kutindih dengan tubuhku yang besar dan kekar. Kamipun kembali berciuman, saling mengait dan memilin lidah, membuat nafsu dan birahi semakin menggelora. Batang kemaluanku semakin besar, keras dan berdenyut-denyut.

Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, pindah ke keningnya, kemudian dengan perlahan dan hati-hati, turun ke bawah. Kuciumi kedua matanya, bulu matanya, hidungnya, dan kedua pipinya bergantian. Kuciumi telinganya, belakang telinganya, kemudian kutelusuri lehernya yang semakin mendongak ke atas. Nafasnya semakin memburu sambil merintih pelan,
“aaaccchhh …”.
Dengan menggunakan lidah, kutelusuri bahunya secara perlahan, turun ke bawah melalui belahan dadanya menuju payudara. Kudaki bukit kembar itu dengan lidah, kuputari putingnya yang mengeras, sebelum akhirnya kukulum dan kumain-mainkan dengan lidah. Sesekali kuhisap agak kuat membuat kepalanya semakin mendongak ke atas. Tangan kananku meremas payudaranya sebelah lagi. Dengan ibu jari dan telunjuk, kujepit dan kupelintir putingnya, sambil sesekali kutarik ke atas dan kulepaskan. Euis semakin meracau tidak jelas. Kepalanya terlempar kekiri dan kekanan menahan nikmat. Matanya yang tertutup dan bibirnya yang sedikit terbuka, menghadirkan pemandangan yang sangat merangsang.

Puas mengeksplorasi kedua payudaranya, kulanjutkan penelusuran tubuhnya. Dengan lidah, kuturuni tubuhnya perlahan dan hati-hati. Dari dada, turun ke perut lalu kujilati pusarnya. Euis menggelinjang kegelian, sementara kedua jari tangannya meremas kepalaku dengan gemas. Lidahku turun semakin kebawah, ke paha, turun lagi perlahan sampai ke ujung kaki kanannya. Seluruh tubuhnya wangi sabun cair antiseptik yang selalu kubawa kemanapun juga. Berpindah ke kaki kiri, arah perjalanan berbalik. Dari ujung kaki, kuciumi kakinya naik ke atas. Melewati tungkai, lutut, paha terus ke atas sampai ke gundukan kewanitaannya yang terlihat sudah sangat basah. Kubuka lebar kedua pahanya, menyingkap belahan kemaluan yang ditumbuhi bulu tipis dan jarang. Bagian dalamnya yang berwarna merah dan basah membuatku tidak tahan untuk segera melahapnya. Perlahan kujilati permukaannya, kemudian dengan lidahku yang kasar dan hangat, kukuakkan belahan itu, mencari tonjolan ujung syaraf yang kupastikan akan mendatangkan kenikmatan yang amat sangat baginya. Kuputar-putar lidahku sambil sesekali kuhisap, membuat Euis merintih semakin keras. Jari-jari tangannya semakin ganas meremas dan mencakar kulit kepalaku. Rintihan semakin keras, nafasnya semakin memburu, disertai dengan gerakan pinggul ke kiri ke kanan ke atas ke bawah tidak beraturan, semakin lama semakin menggila. Tiba-tiba pahanya menjepit kepalaku dengan kuat. Dengan kepala mendongak keatas dan jari tangan meremas kepalaku dengan kuat, Euis berteriak :
“AAACCCHHH !! …”.
Kemudian tubuh mungil telanjang itu tergolek lemas, telentang pasrah. Gadisku sudah mencapai puncak kenikmatannya yang pertama. Kudaki tubuhnya, kupeluk dirinya lalu kucium keningnya. Matanya yang bulat dan bening menatapku lekat-lekat, menyiratkan kepuasan dan kenikmatan yang amat sangat. Satu ronde pergumulan sudah berhasil kulalui dengan sempurna.

Tidak ingin membuang waktu lama-lama, sambil berbaring menyamping kuelus tubuhnya yang telanjang. Sebelah tanganku memeluk lehernya, sementara yang bebas menelusuri tubuhnya mulai telinga, leher, bahu lalu ke payudara. Kuremas gundukan kenyal menggemaskan itu, kemudian kupelintir putting coklat kemerahan yang sudah kembali mengacung tegang. Berganti-ganti, kiri dan kanan, perlahan dan hati-hati. Nafasnya kembali memburu menandakan birahinya bangkit kembali. Ditariknya tubuhku menindih tubuhnya, kemudian diciumnya bibirku. Lidahnya kembali menguak dan menyentuh rongga mulutku dengan ganas. Tangannya yang halus secara naluriah mengelus dan bermain di putting payudaraku, menimbulkan sensasi yang menyenangkan dan nikmat. Mungkin belum banyak yang tau kalau payudara pria, walaupun kecil tetapi memiliki tingkat sensitif yang sama baiknya dengan milik wanita. Tanganku bergerak turun, mengelus gundukan lembut berbulu halus. Jari tengahku menguak belahan basah dan hangat, lalu kugerakkan naik turun menggosok klitorisnya. Euis kembali merintih dan mengerang keras. Deru nafasnya kembali memburu tidak beraturan. Tidak mau kalah, tangannya yang halus lembut beralih ke batang kemaluanku, meremas, mengelus dan menggerakkannya maju mundur, menimbulkan kenikmatan yang membuatku ikut merintih. Dengan sangat perlahan, kumasukkan jari tengahku ke dalam rongga lembut dan hangat, membuat Euis merintih keras :
“eegghh …”.
Kutelusuri dinding bagian dalam rongga kewanitaannya, sambil sesekali kutekan agak keras. Aku selalu membayangkan, apa saja yang ada di dalamnya. Ujung jariku dapat merasakan adanya dua tonjolan, sebentuk saluran dan lainnya. Mungkin itu adalah peranakan dan saluran telurnya. Kutekuk jariku menekan dinding bagian atas. Kutekan jariku berulang-ulang sedikit keras, membuat kepala Euis kembali terlempar ke kiri ke kanan dengan liar. Karena sudah cukup pengalaman, dengan cepat aku dapat menemukan titik ujung syaraf yang mampu membuat wanita seakan terbang ke awang-awang. Letak dan bentuknya tidak sama pada semua wanita, tetapi yang pasti, begitu berhasil ditemukan, gerakan tubuh wanita akan menggila menahan nikmat. Aku merubah posisi dengan berbaring telungkup di antara kedua pahanya. Sementara jariku terus menekan-nekan titik kenikmatan itu, lidahku bermain di pusat kenikmatan lainnya, menggosok, memutar dan sesekali menghisapnya. Euis semakin menggila. Suara rintihannya tidak terkendali lagi. Untunglah tadi aku sempat menghidupkan televisi dan mengeraskan suaranya. Walaupun begitu, aku yakin suara rintihan gadisku ini terdengar sampai ke lorong luar. Tapi, aku tidak peduli. Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana caranya membuat gadisku ini kewalahan dan kepayahan menerima serangan kenikmatan yang bertubi-tubi. Bagiku, keberhasilan membawa pasanganku ke puncak kenikmatan yang tidak terhingga merupakan kebahagiaan. Tubuh Euis terangkat tinggi, terduduk, menggelinjang liar, sebelum akhirnya kembali terhempas pasrah, telentang tidak berdaya. Dari rongga kewanitaannya menetes cairan bening dan hangat. Aku berhasil membuatnya ejakulasi. Sesuatu yang tidak semua wanita dapat mengalaminya. Satu ronde permainan lagi berhasil kulalui dengan sempurna.

Setelah kubiarkan beberapa saat beristirahat dalam pelukanku untuk memulihkan tenaganya yang sudah terkuras habis, aku kembali melancarkan serangan kenikmatanku pada Euis. Kutindih tubuh mungilnya, kemudian kukulum dan kupelintir putting payudaranya dengan lidahku, berganti-ganti, kiri dan kanan. Euis kembali menggeliat dan merintih. Nafasnya kembali memburu menandakan bahwa nafsu birahinya sudah kembali bergelora. Tangannya memeluk erat tubuhku sambil mengelus kulit punggungku. Tanganku yang satu menyangga berat tubuhku agar tidak memberati tubuh mungilnya, sedangkan yang bebas bergerak ke bawah mengarah ke kemaluannya. Kuelus gundukan dan bulu kemaluannya dengan perlahan, sementara jari tengahku kembali berusaha menguak celah hangat dan lembab. Masih cukup basah oleh cairan dari pergumulan sebelumnya, ditambah dengan rangsangan yang diterimanya saat ini. Kuarahkan batang kemaluanku yang sudah mengeras sempurna dengan tangan, kugosok-gosokkan ke klitorisnya, sebelum perlahan-lahan kutekan masuk. Euis merintih keras dan mengerutkan kening saat batang kemaluanku perlahan menguak paksa rongga kewanitaannya. Kukunya menancap kuat di punggungku menandakan Euis sedang menahan rasa, entah sakit, nikmat, atau gabungan dari keduanya. Kumasukkan seperempatnya, kemudian kutarik lagi beberapa kali, sebelum kutekan lebih masuk. Setengahnya, tiga perempatnya, dan tiba-tiba aku tidak peduli apakah Euis kesakitan atau tidak. Aku ingin membenamkan seluruhnya. Kutekan perlahan tapi pasti, sampai terasa bahwa batang kemaluanku sudah menyentuh ujung dalam rongga kewanitaannya. Euis seakan menjerit :
“Heegghhh …”.
Kukunya semakin kuat menghunjam punggungku, dan kulihat ekspresi mukanya yang agak kesakitan. Kudiamkan sesaat. Sambil kucium matanya yang agak lembab dengan air mata, kutanyakan padanya :
“Sakit, sayang ?? …”.
Euis diam. Tidak mengangguk, tetapi tidak juga menggeleng. Kumundurkan pinggulku menarik batang itu keluar, kemudian kuhunjamkan lagi dalam-dalam. Euis merintih :
“AAACCCHHH …”.
Setelah beberapa kali ayunan, kulihat ekspresi mukanya sudah mulai tenang. Rintihan kesakitan sudah berganti dengan rintihan nikmat yang perlahan tapi sering, seiring keluar masuknya batang kemaluanku. Tubuhnya bergiyang keatas ke bawah terdorong oleh gerakan pinggulku maju mundur. Aku semakin semangat menggoyang, menguak dan mengoyak rongga lembut dan hangat itu. Kenikmatan tiada tara yang kurasakan membuatku ikut merintih secara tidak sadar
“Aacchh… hhh… uuhhh …”.
Kulihat Euis sudah mulai dapat menikmatinya. Pinggulnya digerakkan ke kiri ke kanan ke atas ke bawah, kadang berputar liar. Dinginnya udara AC tidak mampu membendung keringatku. Begitupun Euis. Kulihat di belahan dadanya terdapat butiran-butiran keringat, yang membuat tubuhnya basah menggairahkan. Euis berteriak dan berkata :
“Addduhhh, jangan… sakiiitt …”
saat kucoba menarik kedua kakinya dan meletakkan di pundakku. Rupanya kedalaman rongga kewanitaannya menjadi dangkal sehingga tidak sanggup menerima hunjaman batang keras dan lumayan panjang. Aku hampir lupa bahwa Euis baru tiga kali bersetubuh, sehingga kemaluannya belum terbiasa. Jemari Euis semakin liar mencakar punggungku, sementara kepalanya kembali terhempas ke kiri dan ke kanan. Bola matanya mendelik ke atas, hingga warna hitamnya hampir tidak kelihatan. Dengan teriakan yang cukup keras :
“AAACCCHHH!!! …”,
tubuhnya melengkung ke atas, sebelum akhirnya terhempas lemas. Rongga hangat dan lembut itu berdenyut kuat, sebelum akhirnya berhenti. Ach, gadisku sudah menyerah lagi. Kuteruskan gerakanku menyodok dan menguak rongga kewanitaannya. Kadang kuputar pinggulku, membuat Euis merintih. Tubuhnya telentang pasrah, membuat payudaranya membusung menantang. Kukulum dan kuhisap keras putting payudaranya, sambil kupercepat irama gerakan pinggulku, maju mundur. Tekanan yang sangat hebat kurasakan di ujung kemaluanku, semakin kuat, semakin kuat, dan tanpa mampu kutahan, kuhunjamkan batang itu dalam-dalam lalu kumuntahkan lahar sperma sebanyak-banyaknya memenuhi rongga kewanitaannya. Aku sudah kehilangan pikiran sehat untuk tidak melepaskannya di dalam. Kenikmatan birahi yang amat sangat membuatku tidak peduli lagi. Tubuhku terasa lemas seakan tanpa tulang. Kuhempaskan tubuhku menindih tubuhnya yang basah, sementara batang kemaluanku yang masih tertancap di rongga kewanitaannya, belum berhenti berdenyut. Kucium bibirnya, sambil kuucapkan :
“Terima Kasih sayang …”.
“Sama-sama Kang, nikmat sekali. Ampun Kang, Euis capek sekali. Euis sudah tidak kuat lagi …”.
Ucapan selanjutnya langsung membuatku tersengat :
“Gimana kalau Euis sampai hamil Kang ? Euis takut …”
katanya. Aku belum dapat menjawabnya. Kucium bibirnya, lalu kutarik keluar kemaluanku yang mulai lemas. Kulihat seprei putih tempat tidur bernoda darah, bercampur sperma dan cairan lain. Mungkin masih ada sisa-sisa selaput dara yang belum terkoyak pada saat pertama dulu. Aku bangkit berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Suatu kebiasaan yang selalu kulakukan setiap kali selesai bersetubuh.

Malam itu, kami tidur berpelukan kelelahan, masih dalam keadaan telanjang. Bangun pagi kami melakukannya lagi, tidak kalah seru dengan pergumulan semalam. Begitupun setelah makan pagi sebelum CheckOut. Sebenarnya aku berfantasi dan ingin mencoba beberapa posisi dengannya. Tapi gadisku ini masih belum terbiasa. Ia masih merasa kesakitan. Pada saat makan pagi, diam-diam kumasukkan Pil Anti Hamil yang sudah dihancurkan ke dalam Juice Alpukatnya, yang diminum habis olehnya tanpa curiga. Mudah-mudahan obat itu bekerja dengan baik. Di luar dugaanku, Euis menolak keras dan agak marah saat kutawarkan sejumlah uang, kalau-kalau ia membutuhkannya.

Setelah mengantarkan Euis ke tempat kost, aku melanjutkan perjalanan ke Jakarta.



Artikel yang bikin Konti Tegang Lain-nya:

Widget by [ Iptek-4u ]

0 komentar:

Poskan Komentar