Kamis, 17 Januari 2013

Cerita Dewasa Bugil | Pinokio Saat Remaja





3gp-seru.blogspot.com ~ Cerita Pinokio, boneka kayu buatan Gepeto yang dihidupkan oleh peri baik hati telah banyak dikenal. Kali ini adalah lanjutan cerita Pinokio tersebut, namun cerita yang akan anda baca ini tidak untuk anak-anak. Karena Pinokio telah beranjak dewasa, maka cerita Pinokio ini nanti akan sarat dengan adegan-adegan sex dan pornografi XXX yang khusus untuk dewasa. Sekali lagi sebelum membaca cerita Pinokio X, cek tahun kelahiran anda. Bila usia anda kurang dari 17 tahun, sebaiknya anda tidak membacanya. Sebelumnya, terima kasih telah membaca cerita ini. Selamat menikmati!

*****

Sekarang Pinokio telah melalui kehidupan selama 17 tahun dan setara dengan pemuda-pemuda yang berusia 17 tahun. Sebuah masa peralihan menjadi dewasa. Masa-masa yang sulit bagi seorang pemuda seperti Pinokio. Apalagi ia sudah 2 tahun hidup seorang diri sepeninggal Pak Gepeto.

Meninggalnya Pak Gepeto yang dimakan usia merupakan pukulan yang hebat bagi Pinokio. Pembuat dan sekaligus ayahnya itu telah mendidiknya dengan baik. Walau pada awal kehidupannya, Pinokio menjalani cobaan dari godaan-godaan lingkungannya tapi berkat bantuan peri baik hati yang menghidupkannya akhirnya ia kembali ke jalan yang benar (dari versi cerita Pinokio yang asli).

Dan sejak ia kembali menjadi anak yang baik nan jujur, peri baik hati tak pernah lagi mengunjunginya. Tapi Ia menjalani hidup bahagia berdua bersama Pak Gepeto. Dua tahun terkahir ini menjadi masa yang amat sulit, karena ia menjalani kehidupannya seorang diri. Kebutuhan materiil tak menjadi masalah bagi Pinokio, karena ia diwarisi oleh Pak Gepeto toko boneka dan keahlian membuat boneka-boneka kayu.

Kesepian sering melanda diri Pinokio. Apalagi dengan perubahan sifat yang dialaminya sejak Pak Gepeto tiada. Pinokio berubah, dari seorang pemuda yang selalu riang gembira menjadi pemuda yang murung dan tertutup. Dunianya berubah, teman-temannya pun mulai berubah dan makin dewasa. Tapi Pinokio masih berpikiran sebagai anak kecil dan belum mampu untuk beradaptasi dengan kedewasaan. Ia mulai tidak cocok dengan teman-temannya dan menjauhi mereka.

Rupanya Pak Gepeto belum sempat memberinya pelajaran hidup menjadi orang dewasa. Pinokio serba bingung dengan perubahaan lingkungannya. Traumanya pada perilaku bohong yang pernah ia lakukan semasa kecil hingga menyebabkan hidungnya memanjang masih belum hilang dari kepalanya. Sehingga ia masih sangat takut mencoba hal-hal yang umum dilakukan oleh pemuda-pemudi seusianya. Meskipun begitu ia bukan tipe pemuda yang mudah menyerah begitu saja. Ia berusaha mengatasi ketakutannya seorang diri. Rasa penasarannya pada bentuk tubuh wanita membuat Pinokio makin berani.

Pernah suatu ketika ia dipinjami beberapa majalah porno oleh seorang temannya. Saat itu Pinokio seperti mendapat semangat hidup kembali. Di rumah ia membuka majalah yang berisi gambar-gambar wanita telanjang. Ia nikmati lekuk-lekuk tubuh wanita yang ada di gambar itu dengan sedalam-dalamnya. Berbagai pose wanita bugil telah ia lalap malam itu. Dengan mudah kepalanya terisi bayangan-bayangan yang menggiurkan Pinokio. Ia menjadi hafal dengan mudah detil lekuk tubuh wanita yang berpose menantang di majalah itu.

Tak hanya itu saja, di majalah yang lainnya Pinokio malah dapat melihat cowok-cewek saling merangsang dan akhirnya melakukan hubungan badan. Benar-benar sebuah pemandangan yang amat baru bagi Pinokio. Ia pun mulai terangsang dan merasakan adanya sebuah perbedaan pada kemaluannya.

Pinokio segera ke kamar mandi karena mengira ia akan buang air kecil. Tapi setelah ia melepas celananya ia amat kaget. Dilihatnya batang kemaluannya membesar serta memanjang dan menjadi keras. Ia hampir terjengkang kebelakang karena kagetnya. Ia pegang penisnya dan ia paksa untuk mengecil dengan menggosok-gosoknya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Penis Pinokio malah mendongkak ke atas makin panjang dan besar saja.

Pinokio merasa ia tidak ingin buang air kecil lagi. Dengan setengah ketakutan ia masukkan penisnya yang masih mendongkak besar panjang dan keras itu ke dalam celananya. Tentu dengan amat susah payah dan menimbulkan sedikit perih. Setelah berhasil ia kembali ke kamarnya lagi.

Pinokio mencoba menenangkan pikiran. Sewaktu ia mencoba duduk di ranjangnya, ujung penisnya sempat menembus kolor celana dalamnya dan menyembul keluar dari celananya. Karena merasakan tekanan kolor celana dalam yang menyakiti penisnya, ia lepas seluruh celananya. Lalu ia berbaring telanjang sambil mengamati penisnya sendiri. Pinokio ingin tahu sampai seberapa panjang penisnya dapat membesar.

Pinokio benar-benar khawatir bahwa penisnya akan mengalami kejadian serupa dengan hidungnya. Trauma lama muncul kembali. Semasa kecil ketika ia bohong, hidungnya bertambah panjang. Itu merupakan peringatan dan hukuman baginya. Saat ini ketika ia melihat gambar-gambar wanita telanjang, penisnya membesar dan memanjang kaku. Pinokio menganggap bahwa melihat aurat wanita juga merupakan kesalahan seperti halnya bohong. Ia merasa mendapat hukuman lagi, bukan pada hidung tapi pada penis.

Ketakutan Pinokio membuat penisnya lambat laun kembali pada ukuran semula. Pinokio merasa lega dan segera memakai semua celananya kembali. Detik itu juga ia membungkus majalah-majalah porno itu dengan mata terpejam. Takut melirik kembali ke covernya yang memang heboh.

Tak lama kemudian Pinokio sudah menghambur keluar rumah. Berlari menuju ke rumah teman yang meminjaminya majalah-majalah porno tersebut. Sesampainya, ia mengetuk pintu rumah sambil terengah-engah. Beruntung teman Pinokio yang bernama Gigolo itu belum tidur.

Gigolo: "Ada apa Pinokio?"
Pinokio: "Nih majalahmu kukembalikan!"
Gigolo: "Kukira ada sesuatu yang gawat. Soal beginian saja kamu bela-belain larut malam begini kamu berlari kesini"
Pinokio: "Gigolo, beginian katamu? Ini memang gawat, bukan sekedar beginian!"

Belum sempat Gigolo berkomentar lagi, Pinokio sudah membalikkan badan dan berlari pulang. Lenyap dalam gelapnya malam dari pandangan Gigolo yang hanya dapat geleng kepala dan tersenyum ringan. Ia benar-benar heran dengan Pinokio.

Sampai di rumah, Pinokio merasa amat lelah dan segera berbaring di ranjangnya. Terlelap tak lama kemudian. Dan segera menuju alam mimpi.

Pinokio duduk-duduk santai di tokonya sambil menunggu pembeli. Seorang wanita muda berparas cantik dan berambut pirang datang. Wanita itu sempat tersenyum pada Pinokio sebelum melihat-lihat seluruh boneka-boneka hasil karya Pinokio. Namun sepertinya tak ada koleksi yang benar-benar minat wanita itu. Dengan ramah Pinokio berusaha melayani satu-satunya pembeli yang datang ke tokonya pada sore itu.

"Cari boneka yang seperti apa?" tanya Pinokio pada wanita cantik itu.

Wanita itu tak menjawab pertanyaan Pinokio.

Ia malah balik bertanya, "Jam berapa toko ini tutup?".
"Biasanya jam segini sudah saya tutup, tapi nona tenang saja, silakan saja mencari boneka yang paling diminati. Saya bisa menutupnya setelah nona mendapatkan boneka yang cocok", jawab Pinokio.
Wanita itu mendekat ke arah Pinokio.
"Sebaiknya kamu tutup saja sekarang, agar tak ada lagi yang kemari! Dengan demikian saya dapat mengatakan padamu boneka yang kucari", pinta wanita itu.
"Baiklah!", kata Pinokio menuruti kata-kata wanita itu.

Setelah memasang tanda tutup dan menutup pintu, Pinokio kembali mendekati pembeli wanita itu.
"Sekarang boneka yang seperti apa yang nona cari? Saya masih punya koleksi boneka-boneka yang tidak saya pajang disini dan saya yakin salah satunya pasti dapat menarik minat nona!", kata Pinokio bersemengat.
"Di mana?", tanya wanita itu.
"Mari saya tunjukkan!", jawab Pinokio sambil menunjuk dan berjalan menuju ke lantai bawah tanah. Wanita itu mengikuti Pinokio.

"Maaf agak gelap dan kotor!", seru Pinokio.
Wanita itu tersenyum sambil berucap, "Tak apa, yang penting saya dapat mendapatkan apa yang saya inginkan".
Pinokio tambah bersemangat mendengar antusias wanita itu. Ia yakin dapat menjual boneka dengan harga mahal. Ditunjukkannya satu per satu boneka-boneka terbaiknya.

Matahari sudah mulai terbenam, malam mulai tiba. Tapi wanita itu belum juga tertarik oleh koleksi-koleksi Pinokio. Karena sudah tak ada lagi yang ditunjukkannya, Pinokio menanyakan kembali macam boneka yang diinginkan wanita itu dengan agak kesal. Wanita bergerak mendekat ke arah Pinokio.

Wanita itu mendekatkan bibirnya yang sensual pada telinga Pinokio.

Lalu berbisik, "Boneka pria yang dapat memberiku kepuasan. Boneka yang seukuran denganmu. Dan yang terpenting, boneka itu memiliki... ".

Wanita itu tak meneruskan kata-katanya tapi memegang bagian depan celana Pinokio. Sontak saja Pinokio kaget dan mundur kebelakang. Namun ia terhalang oleh dinding. Wajah lugu Pinokio membuat wanita semakin bertambah gemas. Genggaman wanita itu makin erat pada bagian depan celana Pinokio yang makin tambah menonjol. Diremas dan diusapnya tonjolan penis pada permukaan celana Pinokio.

"Boneka yang memiliki seperti yang kau miliki ini, besar dan kaku... ", desah wanita itu dengan nada yang menghanyutkan.

Pinokio tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya berdiri pasrah tanpa daya. Penisnya makin membesar dan memanjang. Ujungnya menerobos keluar dari celananya. Merasakan sentuhan jari jemari lentik wanita itu.

"Ahh.. Punyamu nakal dan hebat!", puji wanita itu makin tak sabar.

Melihat Pinokio hanya diam saja, wanita itu segera melucuti celana dan semua pakaian Pinokio. Pinokio pasrah, jantungnya berdetak keras, nafasnya mulai berat. Wanita itu mulai menciumi bibir Pinokio. Menjilati leher dan dada Pinokio. Sementara itu tangannya terus menggegam penis Pinokio.

Tak puas sampai disitu, wanita itu berjongkok dan menciumi batang kemaluan Pinokio. Dari pangkal hingga ujungnya. Lalu mengulumnya dan memainkan lidahnya pada ujung penis Pinokio. Terkadang juga menyedotnya dan mengulumnya lagi. Maju dan mundur. Pinokio merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasakan sebuah kenikmatan. Matanya terpejam merasakan gejolak nafsu yang luar biasa. Sebuah hasrat telah merasukinya sekujur bagian tubuhnya.

Kuluman bibir dan permainan lidah wanita itu membuat rangsangan yang luar biasa bagi Pinokio. Membuatnya seperti terbang tinggi. Tak lama kemudian Pinokio telah mencapai sebuah titik yang amat tinggi. Ia dapat merasakan penisnya berdenyut hebat. Denyutan pertama membawa gumpalan hasrat melewati setiap milimeter batang kemaluannya menuju ujung yang mulai menganga. Melesakkan gumpalan cairan putih yang amat pekat menuju rongga mulut wanita yang masih mengulum penisnya. Diikuti oleh denyutan-denyutan berikutnya yang saling kait mengkait dipicu oleh genggaman 2 tangan wanita itu yang mengocok-ocok penis Pinokio.

Denyutan-denyutan itu makin melemah dan akhirnya lenyap. Tak ada lagi cairan kental putih yang keluar. Seiring dengan kembalinya penis Pinokio ke ukuran semula, Pinokio mulai berani membuka matanya yang ia pejamkan sejak tadi. Dilihatnya wanita itu tengah berdiri di depannya. Menyungging senyum dengan sebuah arti yang tak diketahui oleh Pinokio.

Pinokio maju ke depan hendak berlari menjauh dari wanita itu. Tapi wanita itu mendorongnya dengan keras kembali ke arah dinding. Pelan namun pasti, wanita itu melepaskan satu persatu pakaiannya. Kedua buah dadanya yang berisi itu segera menantang kedua pandangan mata Pinokio. Melotot tak berkedip kedua mata Pinokio menjawab tantangan itu. Pakaian yang terlepas makin kebawah. Pinokio makin penasaran tapi tetap diam memperhatikan semua pemandangan menggiurkan yang ada di depannya. Hingga akhirnya tak selembar benang lagi yang tersisa di tubuh molek wanita itu. Kulitnya putih mulus tak berkerut sedikitpun. Pinokio terperangah pada daerah kemaluan wanita itu. Bulu-bulu halus tampak menghiasi sekitarnya.

Wanita itu berputar menunjukkan seluruh yang dimilikinya. Lalu mendekat tubuh Pinokio yang juga sudah telajang. Kedua tangannya memegang tangan Pinokio dan meletakkannya pada kedua buah dadanya yang sintal itu. Membimbing kedua tangan Pinokio untuk mengusap dan mengelus setiap centi bagian tubuhnya. Setelah itu tangan wanita itu melepas tangan Pinokio. Terus bergerak dibawah kendali Pinokio sendiri. Menyusuri tiap bagian tubuh wanita itu. Yang kanan masih meremas-remas buah dada wanita itu. Yang kiri mengelus daerah kemaluannya, ke atas dan kebawah. Tangan-tangan yang terampil membuat boneka itu sekarang sudah mengenal keterampilan lainnya.

"Ssshhh... Ahh..", desah wanita itu.

Tangan kiri Pinokio mulai merasakan sesuatu yang hangat dan basah dibalik bulu-bulu di sekitar kemaluan wanita itu. Tangan wanita itu kembali membimbing tangan kiri Pinokio. Menuntunnya untuk memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang vagina wanita itu. Dan menggerakkannya ke atas kebawah menyodok-nyodok dalamnya liang yang ada di dalam vagina wanita itu.

"Mmmhhh... Sshh.. Terus.. Enaak.. Aaahh", desah wanita itu tak karuan.

Tanpa disadari Pinokio, penisnya telah kembali mendongkak ke atas. Mengeras, membesar dan memanjang. Tapi wanita itu mengetahuinya. Segera ia tarik Pinokio ke sebuah meja kosong di dekatnya. Wanita itu lalu duduk diatasnya dengan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Ia genggam penis Pinokio dan memasukkannya pelan-pelan ke dalam vaginanya. Ketika ujung penis Pinokio telah masuk, wanita itu menarik pinggul Pinokio. Maju mundur sedikit demi sedikit akhirnya...

Blesss...

Amblaslah seluruh batang kemaluan Pinokio ke dalam lubang vagina wanita itu.

"Ahhh... ", jeritan nikmat dari wanita itu bergema di ruangan bawah tanah itu.

Wanita itu terus membimbing pinggul Pinokio agar maju mundur. Bersamaan dengan itu penis Pinokio ikut pula keluar masuk lubang vagina wanita itu. Kulit saling bergesek dengan kulit. Sebuah sensasi yang baru kali ini dirasakan Pinokio. Setiap kali Pinokio menggerakkan maju pinggulnya, penisnya melesak jauh ke dalam liang vagina wanita itu. Sensasi nikmatnya ia rasakan hingga ke ubun-ubun.

Merasakan bahwa Pinokio makin pintar memainkan pinggulnya, wanita itu segera melepas tangannya dari pinggul Pinokio. Wanita itu membaringkan badannya ke meja. Ia dapat merasakan vaginanya penuh terisi oleh batang kemaluan Pinokio. Bahkan ujung penis Pinokio dapat ia rasakan hingga di bagian terdalam dari vaginanya. Penis Pinokio yang bertubi-tubi menghujam ke lubang vaginanya, mendorong hasratnya makin meledak-ledak.

"Ah.. Oh.. Sshh.. Aahh.. Terus.. Terus.. Kamu memang boneka yang kuingin-inginkan... Mmh.. Aaah... ", racau wanita itu.

Hasrat telah sampai puncaknya. Bersamaan dengan itu ia mengejang dan bangkit terduduk kembali serta merangkul erat tubuh Pinokio. Pinokio pun merasakan hal yang hampir mirip. Dalam keadaan tubuh yang sama-sama mengejang, keduanya saling memicu satu sama lain. Bersama-sama keduanya mencapai titik puncak kenikmatan tertinggi.

Dalam rangkulan Pinokio, wanita itu berkata,

"Kamu memang hebat! Boneka semacam engkaulah yang kucari selama ini! Engkau akan menjadi boneka kesayanganku dalam kamarku! Tinggalkan kehidupanmu ini dan kembali sajalah jadi boneka!" kata-kata itu bagaikan sambaran petir di kepala Pinokio.

Ia dulunya adalah boneka. Pinokio sudah merasa bahagia karena dapat hidup sebagai manusia. Kembali menjadi boneka bukanlah keinginannya lagi.

"Tidak.. Tidak.. Aku tak mau jadi boneka lagi... Oh... Tidaaak!", jerit Pinokio.

Terbangunlah ia dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan keringat yang membasahi tubuhnya. Pinokio baru sadar bahwa ia baru saja bermimpi. Tapi ia masih merasakan semua yang ada dalam mimpi seperti sebuah kenyataan saja. Pinokio merasakan celana bagian depannya telah sangat basah. Bukan oleh air seni tapi oleh cairan lengket yang berbau aneh. Pinokio benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi. Mimpi yang mirip kenyataan ataukah kenyataan dalam sebuah mimpi. Yang pasti adalah mimpi yang basah... Mimpi basah.

*****

Sejak melihat gambaran tubuh wanita telanjang serta gambar-gambar porno dari majalah pinjaman, Pinokio semakin gampang melamun. Konsentrasi seringkali berantakan di tengah-tengah aktivitasnya. Pikirannya mudah melayang membayangkan yang tidak-tidak. Khayalannya pada tubuh wanita yang menggiurkan sedikit demi sedikit merusak boneka-boneka karyanya.

Pinokio makin kesulitan menghasilkan boneka-boneka lucu untuk anak-anak. Disaat ia memaksakan diri untuk membuat boneka-boneka anak yang lucu, hasilnya malah sebaliknya. Boneka-boneka yang semestinya lucu menjadi boneka-boneka yang sangar dan amat menakutkan. Moodnya sangat mempengaruhi hasil karyanya. Meski begitu, disaat moodnya hanya dipenuhi oleh nafsu birahi yang tak tersalurkan, Pinokio masih sempat membuat boneka yang dapat menjadi masterpiece. Boneka Chuckie menjadi karya Pinokio yang sempat dilupakan orang karena pada saat itu Boneka Chuckie dianggap sebagai titisan setan.

Disaat lain dimana Pinokio mengikuti moodnya, boneka yang dihasilkannya bahkan menjadi tidak cocok lagi dikonsumsi anak-anak. Boneka buatan Pinokio masih tetap indah, tapi berkesan pornografi. Bagaimana tidak, boneka anak laki-laki dengan wajah imut ia buat telanjang dan berpose sedang memegang penisnya sendiri. Dan yang paling tak senonoh lagi adalah saat ia membuat boneka sepasang anak laki-laki dan perempuan lagi telanjang dan saling menindih satu sama lainnya.

Hal-hal itu membuat toko bonekanya makin lama makin sepi. Di waktu itu, orang-orang benar-benar menganggap boneka karya Pinokio sudah keterlaluan dan terlalu mesum. Banyak orang tua yang melarang anak-anaknya bermain ke toko boneka Pinokio. Padahal dahulu toko Pinokio sering ramai didatangi anak-anak, meski tak semua membelinya.

Tak hanya usahanya saja yang menjadi kacau. Kehidupan sosial Pinokio juga menjadi makin runyam. Diwaktu Pinokio berkumpul dengan teman-teman ceweknya, bayangan yang ada dalam majalah porno yang pernah ia lihatnya seringkali ikut muncul. Lamunannya makin menjadi ketika melihat pakaian teman ceweknya yang ketat. Bayangan Pinokio selalu tertuju pada lekuk-lekuk tubuh teman ceweknya tanpa selembar benang pun.

Bila sudah demikian, batang kemaluan Pinokio akan segera berdiri keras, membesar dan memanjang. Pada saat kumpul bersama teman-temannya, tonjolan penis di permukaan celananya akan menjadi sebuah pemandangan yang amat memalukan bagi Pinokio. Khawatir akan hal tersebut, Pinokio semakin menghindari kegiatan kumpul-kumpul bersama temannya. Terutama bila yang mengajak Pinokio adalah teman-teman ceweknya.

Pinokio menjadi lebih senang menyepi sendiri di rumahnya. Atau menyepi masuk hutan. Selain mencari kayu untuk bahan-bahan bonekanya, Pinokio juga dapat menenangkan pikiran. Di dalam hutan yang sepi, Pinokio mampu menjernihkan pikirannya dari berbagai hal yang berbau nafsu seks. Bayangan akan tubuh wanita yang amat menggoda nafsunya dapat lenyap dan terisi oleh rasa bahagianya menikmati alam bebas dalam hutan.

Telah seharian Pinokio masuk ke dalam hutan. Sekarung potongan kayu telah berada di punggungnya. Pinokio sudah bermaksud untuk balik ke rumah ketika mendengar suara orang yang dikenalnya secara samar-samar. Suara itu berasal dari semak-semak di pinggir hutan. Di bawah pepohonan tinggi yang membisu.

Pinokio menjadi penasaran akan sura tersebut. Diletakkannya karung kayu yang ia bawa dan menuju asalnya suara samar-samar itu. Semakin mendekat semakin jelas suara tersebut. Suara perbincangan antara sepasang kekasih. Pinokio dapat mengenal bahwa yang pria adalah temannya yang bernama Gigolo. Tetapi ia tak bisa memastikan siapa yang diajak Gigolo berbincang.

Tak ingin mengganggu apalagi mengejutkan sepasang kekasih itu, Pinokio merangkak mengendap-endap diantara semak-semak. Akhirnya dari balik semak-semak rimbun yang berjarak kurang dari beberapa depa dari duduknya sepasang kekasih itu, Pinokio dapat melihatnya dengan jelas. Tebakannya tepat, yang pria adalah temannya yang bernama Gigolo. Pemuda seumuran Pinokio yang rupawan dan memiliki tubuh tegap perkasa. Gigolo benar-benar merupakan pemuda ideal yang banyak digandrungi gadis-gadis di daerah tempat tinggal Pinokio.

Pinokio merasa agak kaget tatkala ia mengalihkan perhatiannya ke arah ceweknya. Cewek itu adalah Hostesla, janda kaya yang amat cantik berumur sekitar 35 tahunan. Hostesla adalah pemilik toko yang menjual alat-alat kecantikan. Pinokio berpikir bahwa kecantikan Hostesla tak lepas dari perawatan rutin tubuhnya.

Dengan sangat jelas, Pinokio dapat mengintip semua yang dilakukan Gigolo dan Hostesla. Keduanya saling bercumbu dalam keadaan duduk bersandar di pohon cemara yang besar. Terdengar pula rayuan gombal keluar dari mulut Gigolo. Hostesla menyambutnya dengan perangai yang lebih berani dan mengggoda.

Desir angin segar alam bebas tak mampu lagi mendinginkan nafsu Gigolo dan Hostesla yang sudah mendidih. Malu-malu mau, pakaian Hostesla dilucuti Gigolo satu persatu. Ketika pakaian bagian atas Hostesla tak tersisa lagi, Gigolo merangsekkan bibirnya pada payudaranya yang mempesona itu. Gigolo mengulumnya hingga desah keras keluar dari mulut Hostesla.

"Ahh... ".

Pinokio yang belum tahu soal seks mengira Gigolo telah menyakiti Hostesla. Pinokio kebingungan harus bertindak apa. Dalam kebingungannya, Pinokio sempat melepaskan perhatian dari arah pergumulan Gigolo dan Hostesla. Pinokio berpikir untuk menolong Hostesla dari keganasan Gigolo. Keputusan sudah ia ambil, tapi saat Pinokio akan melaksanakan niatnya, ia melihat sebuah pemandangan yang mengagetkannya.

Gigolo dan Hostesla sudah bugil dan Hostesla terlihat menindih Gigolo. Kelihatan pinggulnya bergerak maju-mundur dan naik-turun. Pinokio juga dapat memperhatikan kalau penis Gigolo sudah tertancap pada vagina Hostesla. Gigolo dan Hostesla terus asyik merajut hasrat dan nafsu tak lagi mengindahkan keadaan alam terbuka. Apalagi tahu bahwa permainan seks yang mereka lakukan diperhatikan Pinokio, teman Gigolo.

Pinokio mengurungkan niatnya. Dari apa yang ia lihat dan dengar kemudian, Pinokio sadar bahwa Gigolo dan Hostesla sedang menikmati permainan itu. Dan Pinokio merasa tak perlu campur tangan atau terlibat dalam permainan itu. Tapi Pinokio juga tak mau beranjak dari tempat itu. Ia melotot memperhatikan permainan itu dan tak ingin kehilangan lagi momen yang membuat jantungnya berdegup cukup cepat.

Hostesla menarik pinggulnya hingga terlepaslah penis Gigolo dari vaginanya. Tapi pertunjukan belum usai. Hostesla berdiri dan agak berjongkok memegang pohon tempatnya berteduh. Gigolo berdiri mengikutinya dengan memegang penisnya yang masih mendongkak keras. Dari belakang tubuh Hostesla, Gigolo memasukkan penisnya ke lobang vaginanya. Lalu Gigolo mendorong-dorongkan pinggulnya.

Clep.. Clep.. Clep..

Bunyi penis Gigolo keluar masuk vagina Hostesla. Ditambah desah yang saling susul menyusul diantara keduanya, memecah kesunyian hutan.

Kali ini tak ada yang terlepas dari penglihatan Pinokio. Semuanya terekam di otaknya. Gigolo menyudahi permainan itu dengan mencabut penisnya dari vagina Hostesla. Lalu menggosok-gosok penisnya hingga keluar cairan putih yang menyembur ke arah pantat Hostesla. Diikuti pula oleh desah panjang kepuasan, baik dari mulut Gigolo maupun Hostesla.

Pinokio masih belum beranjak dari tempat mengintipnya. Bahkan setelah tontonan gratis itu bubar dan kedua pemerannya telah menghilang dari pandangannya. Pinokio masih mencoba mencerna apa yang telah ia lihat. Dan ia baru menyadari bahwa penisnya sendiri juga telah membesar dan memanjang. Pinokio mencoba merubah posisi tubuhnya dan terlentang agar penisnya tak lagi tertekan oleh tubuhnya.

Tapi malang tak dapat dicegah. Bagian tangan dan kaki Pinokio terkena duri-duri dari semak-semak di sekitarnya. Ia pun segera pulang ke rumah sambil meringis kesakitan oleh perihnya duri yang mengenainya.

Berhari-hari setelah kejadian di dalam hutan, Pinokio masih belum dapat melupakannya. Apa yang telah diperbuat oleh temannya, Gigolo pada janda Hostesla terus membayang di pikirannya. Bayangan yang menancap di otaknya melebihi efek yang ditimbulkan oleh bayangan gambar-gambar di majalah porno.

Pinokio tak mau lagi berlama-lama di hutan. Tiap kali ia selesai mengambil kayu untuk bahan bonekanya, Pinokio segera ngibrit pulang. Hutan yang dulu menjadi tempatnya menenangkan pikiran sekarang telah punya kesan yang berbeda.

Apalagi setelah ia dikejar oleh beruang besar saat mencari kayu di dalam hutan. Penyebabnya tak lain adalah Pinokio sendiri. Saat itu ia kembali melamun membayangkan peristiwa tempo hari. Ia berandai-andai dan membayangkan dirinya sebagai Gigolo. Pada saat itu Pinokio tak sadar bahwa batang kayu besar yang tergeletak di bawah pohon adalah kaki beruang yang sedang tidur. Dalam keadaan masih melamun ia tarik-tarik kaki beruang itu hingga terbangun dari tidurnya. Suara geram keras dari beruang itu mengagetkan Pinokio hingga tersadar kembali. Ia pun segera lari tunggang langgang dikejar beruang itu.

Meski akhirnya lolos berkat kecerdikannya dan selamat sampai di rumah, tapi rasa takutnya masih menghinggapinya hingga berhari-hari. Pinokio benar-benar merasakan cobaan yang amat berat dari masa-masa pubernya. Ia adalah pemuda yang hidup seorang diri. Tak ada yang menuntunnya melewati masa-masa perubahan tersebut. Bertanya pun, Pinokio amat malu. Maka jadilah Pinokio sosok yang berusaha mencari jawaban namun selalu celaka tiap kali memperolehnya.

Beberapa bulan telah berselang. Entah dari mana asalnya, Pinokio mendapat ide untuk membuat boneka seukuran dengannya. Ia buat boneka itu persis sama dengan bentuk tubuh janda Hostesla yang pernah ia lihat. Dan setelah selesai, ia letakkan boneka wanita itu di ranjangnya.

Setiap kali hasrat nafsu birahinya memuncak, Pinokio menindih boneka wanita itu dengan telanjang. Lalu ia menggosok-gosokkan penisnya pada selakangan boneka itu hingga penisnya memuncratkan cairan putih. Pinokio berpikir bahwa yang ia lakukan sudah mirip yang dilakukan oleh temannya, Gigolo. Bedanya ia melakukan hal itu pada boneka. Meski penisnya sering lecet saat bermain dengan boneka wanitanya itu, tapi Pinokio tak juga kapok. Menurutnya hal itu adalah jalan keluar dari permasalahannya, karena setelah memuncratkan cairan putih, ukuran penisnya akan kembali normal dan ia dapat kembali ke aktivitasnya tanpa melamun lagi.

Setelah berkali-kali bermain dengan boneka wanita pemuas nafsunya, Pinokio merasa ada yang kurang. Setelah ia mengingat-ingat kembali tubuh janda Hostela, akhirnya Pinokio menemukan kekurangan pada boneka wanita itu. Pinokio segera mengambil perkakas yang biasa ia pakai untuk membuat boneka. Dan ia pun segera bekerja untuk memperbaiki boneka wanita itu dan menambah apa yang menurutnya kurang.

Tak lama kemudian Pinokio selesai. Senyum puas tersungging di bibirnya sambil mengamati boneka wanita tersebut. Setelah mengembalikan perkakasnya, sebenarnya Pinokio sudah tak sabar lagi untuk mencoba bermain dengan boneka wanita yang telah ia revisi itu. Tapi rasa lapar menunda sementara keinginannya.

Malam itu memang lebih dingin dari biasanya. Pinokio segera naik ranjang dan tanpa membuang waktu lagi telah bertelanjang di samping boneka wanitanya. Tangannya menyusuri lekuk-lekuk tubuh boneka yang sempurna itu. Pikiran Pinokio melayang jauh. Ketika tangannya sampai di selakangan boneka itu, Pinokio merasakan lubang yang telah ia tambahkan barusan. Nafsu Pinokio sudah memuncak, penisnya tengah membesar dan memanjang.

Tanpa menunggu lagi, Pinokio segera menindih boneka wanita itu dan memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina boneka itu. Pinokio merasakan sensasi yang beda dari biasanya. Sensasi lebih itu membuat penisnya makin lama makin keras, tambah besar dan panjang.

Membayangkan seperti yang dilakukan Giogolo, Pinokio mencoba mendorong pinggulnya.

"Uenak teunan!", pikir Pinokio.

Ia coba tarik lagi pinggulnya, tapi penisnya tak dapat bergerak. Pinokio tak memperkirakan penisnya bakal lebih besar dari lubang vagina yang ia buat pada boneka wanita itu. Penis Pinokio menancap tak bisa lepas pada vagina boneka itu.

Pinokio merasa kesakitan, kata enak tenan segera pupus dan berubah dengan lolongan kesakitan. Seorang diri ia mencoba untuk melepaskan penisnya dari boneka itu tapi masih gagal. Penisnya belum mau mengecil. Pinokio berusaha agar penisnya dapat memuncratkan cairan putih seperti biasanya agar bisa mengecil kembali. Tapi bagaimana ia dapat memuncratkan cairan putih itu bila tak menggesek-gesekkan penisnya. Pinokio benar-benar kehabisan akal hingga menangis tersedu-sedu.

Tak disangka dan tak dinyana, tiba-tiba keluarlah asap putih dari pojok kamar Pinokio. Dari balik asap itu muncullah seorang wanita anggun rupawan. Ia adalah peri baik hati yang telah menghidupkan Pinokio. Seketika itu juga Pinokio dapat mengenali wajah peri baik hati yang tak berubah dimakan oleh zaman. Wajah peri baik hati tetap cantik berseri. Wajah Pinokio langsung merah karena merasa malu dengan keadaan dirinya yang tengah telanjang dan menungging diatas sebuah boneka.

Peri baik hati hanya tersenyum dan memaklumi keadaan Pinokio. Tapi Pinokio amat malu dan merasa tak patut ditolong. Ia berusaha membuang muka dan menjauh dari peri baik hati yang semakin mendekati dirinya. Usahanya itu membuat Pinokio terjengkang kebelakang karena tanpa disadarinya penisnya telah kembali mengecil karena perasaan malu pada kedatangan peri baik hati. Sehingga terlepas pula penisnya dari lobang pada boneka itu.

Pinokio segera beranjak dari tempatnya terjengkang dan duduk di pojok ranjang sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada peri baik hati namun tak kuasa berkata-kata. Pinokio merasa benar-benar amat malu. Kepalanya menunduk tak mampu memandang wajah peri yang ada dihadapannya. Wajah yang berseri, manis dan cantik serta dipadu dengan rambut panjangnya yang rapi hitam mengkilat. Wajah anggun nan bijaksana.

"Pinokio! Aku tahu semua yang terjadi padamu. Kamu tak usah malu apalagi takut padaku. Aku kesini untuk membantumu bukan untuk menghukummu", seru peri baik hati.
Pinokio mengangguk tapi masih diam."Baiklah, aku akan memberi beberapa pengetahuan yang mungkin berharga bagimu, perhatikan dan dengarkan semua ucapanku, bertanyalah bila kau tak mengerti!", lanjut peri baik hati.
Pinokio mengangguk lagi.

Selanjutnya si peri baik hati mengumbar penjelasan rinci mengenai beberapa persoalan yang menghinggapi Pinokio. Mulai dari organ tubuh manusia, masa pubertas cowok-cewek, seks dan lain-lain. Pinokio akhirnya memahami"sex-education" yang diberikan oleh peri baik hati. Keberanian Pinokio mulai bangkit dan menggunakan kesempatan itu untuk bertanya sepuas-puasnya. Peri baik hati menjawab semua pertanyaan itu dengan gamblang. Bahkan bisa dikatakan amat sabar karena pertanyaan Pinokio kadang polos juga konyol. Tak jarang pula pertanyaan Pinokio juga nakal.

"Nah itu tadi adalah teori, sekarang kutunjukkan prakteknya!", kata peri baik hati sambil duduk disamping Pinokio dan membuka selimut yang dikenannya.
"Praktek apa?", tanya Pinokio gemetar.
"Kutunjukkan ini adalah...", jawab peri baik hati sambil langsung memegang penis Pinokio.

Pinokio tak dapat menghindar pun juga tak hendak, karena penisnya tengah merasakan belaian dari jari-jari halus peri yang terasa nikmat dan sejuk.

Detak jantung Pinokio semakin cepat. Penisnya dengan cepat mendongkak, makin lama makin besar, panjang dan keras. Si peri tampak tak terpengaruh oleh hal itu. Ia terus mengoceh tentang bagian-bagian organ pria itu. Namun ia mengerti apa yang dirasakan oleh Pinokio. Secara ajaib, jari-jarinya mengeluarkan zat yang licin dan harum. Si peri telus membelai dan menggosok penis Pinokio yang besar itu.

"Santai saja Pinokio, nikmatilah dan lepaskan bebanmu selamu ini...", ucap peri baik hati.

Ia menyudahi pelajaran sex-nya, dan memberikan prakteknya dengan sebuah kenikmatan kocokan tangan ala peri pada Pinokio. Sebuah teknik kocokan yang hanya diketahui oleh peri. Kedua tangannya terus bergerak menggosok dan mengurut penis Pinokio bak tangan tukang pijat profesional.

Pinokio terlihat amat menikmati kocokan itu. Terduduk ia merasakan sebuah sensasi yang luar biasa. Nafasnya makin menderu dan makin berat. Kedua tangannya yang mencekeram ujung di ranjangnya.

"Hmmm.. Sshh... Ahh", desis Pinokio.

Kini rasa malunya pada peri baik hati sudah lenyap, namun tetap tak berani menjamah peri yang amat dekat dengannya.

"Oh, Peri... Aku tak kuat lagi... Ahh...", seru Pinokio.

Selang tak lama kemudian, penis Pinokio berdenyut hebat. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan putih dari ujung penisnya. Sedemikian derasnya hingga cairan sperma Pinokio mengenai pakaian peri. Peri baik hati tersenyum lebar dan terus mengocok penis Pinokio hingga tak ada lagi yang keluar dari ujungnya.

Peri baik hati melepaskan kedua tangannya dari penis Pinokio. Sebuah keajaiban kembali terlihat. Ujung penis Pinokio berubah bentuk seperti bentuk kepala penis yang telah disunat. Pinokio merasa sangat lemas dan kehabisan banyak tenaga. Dengkulnya gemetar, apalagi setelah merasakan keajaiban itu. Namun ia sudah tak mampu untuk panik.

"Jangan khawatir Pinokio, penismu tak apa-apa, penismu telah berubah menjadi dewasa dan makin aduhai. Aku yakin wanita-wanita yang merasakannya akan ketagihan!", ujar peri baik hati membuat tenang Pinokio.

Sebuah peluh menetes dari dahi peri sewaktu berujar pada Pinokio. Sebuah hal yang sebenarnya tak mungkin terjadi bagi peri.
Sebuah hasrat berkembang dari diri peri baik hati. Si peri sebenarnya tak mempunyai nafsu. Berkali-kali ia membantu pemuda-pemuda pada masa itu yang mempunyai masalah yang sama dengan yang dihadapi Pinokio, tapi baru kali ini ia merasakan sebuah dorongan hasrat itu. Sebuah dorongan yang aneh menurutnya sendiri, tapi si peri tetap bersikap wajar dan berusaha tak memedam hatinya.

Pinokio masih duduk lemas dan tak merasa percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia hanya memandangi wajah ayu si peri baik hati.

"Bagaimana rasanya Pinokio? Capek? Apa perlu aku sudahi pelajaran hari ini?", tanya si peri.

Pinokio menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju campur bingung. Pinokio masih belum mau ditinggalkan oleh si peri. Tapi ia juga bingung, akan pelajaran apalagi yang akan diberikan si peri. Bukankah ia sudah mendapat teori dan praktek?

"Maaf peri, apakah pelajarannya masih banyak?", tanya Pinokio.
"Tak banyak lagi tapi masih ada yang bisa kusampaikan, tapi kelihatannya kamu sudah lelah!", jawab peri.
"Tidak peri, tidak, saya belum lelah, lihat ini saya masih segar kok!", seru Pinokio dengan semangat tinggi sambil berulah bak seorang binaragawan yang sedang mempertontonkan otot-ototnya.
Si peri hanya tersenyum melihat sikap Pinokio tersebut.
"Peri, sebaiknya pelajarannya dirampungkan sekarang saja!", pinta Pinokio.
"Daripada peri bolak-balik ke sini lagi dan ngabisin ongkos, rumah peri kan jauh!", sambung Pinokio.
"Pinokio, Pinokio, siapa yang mengajarimu merayu seperti itu? Perasaan aku tidak pernah mengajarimu merayu. Lagi pula bangsa peri tak butuh ongkos untuk bepergian.", kata peri.
"Saya tak bermaksud merayu peri, mana berani saya merayu peri, merayu wanita saja saya sudah takut.", jelas Pinokio sambil menundukkan mukanya.
"Baiklah akan kulanjutkan, tapi ingat ya, jangan kau beri tahu siapa-siapa akan hal ini!", kata peri.

Pinokio mengangguk setuju dengan air muka kembali ceria.

"Pinokio, kamu kan sudah tahu segala hal tentang pria, sekarang aku mau lanjutkan tentang wanita", kata si peri.
Pinokio mengangguk dan tambah ingin tahu.
"Aku adalah peri tapi tubuhku sama persis dengan wanita, jadi kau lihat saja tubuhku agar kau bisa mengerti", lanjut si peri.

Pinokio tambah gusar dan makin tak sabar lagi. Si peri lalu berdiri dan melepaskan semua pakaian yang dikenakannya. Hingga tak seutas benangpun menempel di tubuhnya. Pinokio terbelalak melihat setiap lekuk dan detil tubuh si peri. Ia terpesona dengan keindahan tubuh si peri.

Putih kulitnya, bersih lagi halus. Tak ada kerut maupun keriput. Ditumbuhi bulu-bulu halus yang hampir tak nampak. Namun pasti akan terasa bila dapat menyentuhnya. Tak ada bercak ataupun cacat sedikitpun. Kulit yang ideal bagi seorang wanita.

Semua bagian terletak pada tempatnya dengan tepat. Dua buah dadanya pas dengan badannya, tak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil. Seimbang dan tak berat sebelah. Dihiasi puting yang mempesona. Keduanya tampak kencang dan menggairahkan.

Si peri juga memiliki perut yang rata. Tidak terlalu kurus dan tak terlalu gemuk. Berhias lubang pusar yang menarik. Berpadu dengan pinggul yang meliuk menyambung kedua belah pantatnya yang membuat ngiler siapapun yang melihatnya. Benar-benar pas bagai sebuah patung yang dipahat dengan cermat.

Kedua paha dan kakinya jenjang lurus dan klop dengan ukuran tubuhnya. Tak ada kelebihan lemak atau apapun yang membuatnya menjadi tak sempurna lagi. Diantara kedua pahanya tampak bulu-bulu kemaluannya yang tipis. Melindungi rahasia kemaluannya yang berwarna pink itu.

Pinokio hanya dapat menelan air ludah saja melihat kesemuanya itu. Ia seperti terhipnotis oleh pemandangan yang menggiurkan. Semua fantasi, imajinasi dan khayalan gambaran tubuh wanita yang ada di kepalanya kalah jauh dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Pinokio tak perlu mengucapkan sepatah kata pun. Penisnya menjawab seluruh respon dari pemandangan yang ada di depannya. Penisnya mendongkak, membesar, memanjang dan keras. Lebih besar, panjang dan keras daripada sebelum-sebelumnya. Nafasnya berderu seiring hasrat dan nafsu yang tancap gas tanpa rem.

"Apakah aku bermimpi?", seru Pinokio.
Ia menampar mukanya sendiri dan merasakan kesakitan.
"Oh, aku tidak bermimpi, ini benar-benar nyata", kata Pinokio.
"Kamu tidak bermimpi Pinokio!", ujar si peri menyadarkan Pinokio.
"Pinokio, apakah kamu siap melanjutkan pelajaran atau hanya melotot saja?", tanya si peri sambil duduk seranjang dengan Pinokio. Duduk tepat dihadapan Pinokio.

"Sssi.. Si.. Siap!", jawab Pinokio terbata-bata.
"Siap apanya? Siap melotot terus ya?", goda si peri sambil tersenyum ramah.
Meski hasratnya sudah melampaui ambang batas tapi Pinokio masih menaruh hormat dan malu pada si peri. Muka Pinokio memerah dan agak ia tundukkan.
"Si.. Siap belajar peri!", jawab Pinokio sambil mengkonsentrasikan pikirannya pada pelajaran yang akan diberikan oleh si peri.
"Baik akan saya lanjutkan, ...", terang si peri yang berkelanjutan dengan menerangkan setiap detil organ tubuh wanita.

Setiap anggota tubuh yang ia miliki ia tunjukkan pada Pinokio. Pinokio manggut-manggut sambil menalar semua penjelasan si peri.

"Peri, boleh aku tanyakan sesuatu?", potong Pinokio dengan wajah agak penasaran.
"Silakan bertanya sepuasmu", jawab peri.
"Tapi mungkin ini tak ada hubungannya dengan penjelasan peri.", lanjut Pinokio.
Peri mengangguk tanda tak apa.
"Peri, dulu sewaktu aku kau hidupkan dari sebuah boneka, kuingat engkau memiliki sepasang sayap, sekarang mana sayap itu?", tanya Pinokio.
"Ini kan bukan cerita anak kecil lagi jadi lupakan soal sayap. Meski sebenarnya peri tak memiliki sayap tapi tetap saja bisa kemana-mana dengan mudah dan tanpa ongkos!", jawab peri dan mengingatkan Pinokio pada celetukannya.
Pinokio hanya tersenyum sambil berkata lirih, "Oh, begitu ya, saya kira sayapnya digadaikan untuk ongkos kesini".
Si peri tersenyum mendengar kenakalan celetukan Pinokio.

"Pinokio, pelajarannya mau dilanjutkan lagi atau ganti topik soal ongkos?", tanya si peri.
"Lanjut, lanjut peri!", seru Pinokio dengan cepat.
"Sepertinya kamu tidak sungguh-sungguh belajar, ya!", gertak si peri dengan merubah wajahnya agak marah.
"Maafin Pinokio, peri jangan marah, saya cuma bergurau saja kok!", rengek Pinokio.

Si peri dapat memaklumi gurauan Pinokio dan melanjutkan penjelasannya dengan menunjukkan titik-titik rangsang pada wanita.
"Sekarang coba kamu pegang titik-titik rangsang yang ada padaku!", perintah si peri.
Pinokio ragu tapi setelah diyakinkan si peri bahwa tak apa-apa, maka tangan Pinokio mulai bergerak.

Pinokio membelai leher, buah dada dan daerah kemaluan si peri. Jari jemari Pinokio yang terampil dengan perkakas saat ini menggerayangi seluruh bagian tubuh si peri dengan hati-hati. Si peri merasakan sebuah angin telah merubah perasaannya yang seharusnya tak bernafsu.

"Pinokio, coba kamu beri aku rangsangan yang lebih lagi", pinta si peri sambil merebahkan tubuhnya.

Sebagaimana pelajaran teori yang telah diajarkan padanya, Pinokio mulai menciumi dan menjilati seluruh tubuh si peri dengan penuh perasaan. Tangannya pun juga tak berhenti. Pinokio menjadi semakin berani karena telah mendapat ijin.

Rangsangan yang diberikan Pinokio benar-benar telah menggugah nafsu si peri. Ia tak lagi memperhatikan benar tidaknya apa yang dilakukan Pinokio. Si peri memejamkan mata menikmati semua yang dilakukan Pinokio pada tubuhnya. Sentuhan-sentuhan tak sengaja dari penis Pinokio yang besar, panjang dan keras pada permukaan kulitnya, menambah kenikmatan yang dirasakan oleh si peri.

Bak bayi yang baru lahir, Pinokio juga menyedot kedua buah dada si peri secara bergantian. Menghisap dan memainkan lidahnya pada puting si peri yang semakin tegang. Setelah puas, Pinokio mulai merangsek turun kebagian bawah tubuh peri.

Pada permukaan daerah kemaluan si peri, lidah Pinokio kembali menari-nari. Terjulur-julur keluar masuk akhirnya masuk juga ke lubang vagina si peri. Si peri berusaha keras menahan suaranya. Ia tak ingin Pinokio tahu bahwa ia mengambil kesempatan dengan menikmati tugas membimbingnya. Bagaimanapun juga pelajaran yang telah ia ajarkan benar-benar dipraktekan dengan baik oleh Pinokio.

Seiring dengan kuluman-kuluman bibir Pinokio pada vaginanya, si peri merasakan gemuruh hebat nafsu dalam dirimnya telah berhasil menjebol tembok pertahanannya. Bila kekangan telah terlampaui berarti tinggal menunggu waktu untuk tercapainya puncak. Juluran lidah Pinokio sesekali terasa pada dinding-dinding liang vagina si peri. Dipadu dengan hisapan-hisapan nikmat membuat pinggul dan sekujur si peri bergerak-gerak tak karuan.

Tak lama kemudian tubuh si peri mengejang. Pinggulnya terangkat sedikit dan ditanggkap oleh kedua tangan Pinokio. Ia menarik ke arah mukanya, sehingga lidahnya yang sudah terjulur dapat masuk sangat dalam pada vagina si peri. Tubuh si peri semakin mengejang. Ia sudah sampai pada puncaknya. Otot-otot kemaluannya berdenyut mengalirkan bergelombang-gelombang cairan kepuasan. Menenggelamkan lidah Pinokio didalamnya.

Rasa aneh cairan itu membuat Pinokio makin penasaran. Pinokio berusaha menghisapnya sekuat nafasnya. Si peri makin menggelinjang merasakannya. Lalu gelombang nafsu kembali surut. Dan tubuh si peri kembali tenang, lemas dan lunglai setelah kepuasan terengguk.

Sebaliknya nafsu Pinokio sudah mencapi ubun-ubun. Tanpa memberi waktu istirahat bagi si peri untuk beristirahat, Pinokio menindih tubuh peri hingga kedua permukaan kulit mereka saling bersentuhan. Seakan menyatu, dada Pinokio bergesek dengan buah dada si peri. Penis Pinokio juga ikut bergesek pada selakangan dan permukaan bagian kemaluan si peri. Sementara itu mulut Pinokio menghisap leher si peri.

Sekuat tenaga si peri menahan nafsunya tak urung sebuah desah nikmat keluar dari bibirnya juga,

"Ssh.. Aah..."

Kesempatan itu tak disia-siakan Pinokio. Ia menyatukan bibirnya dengan bibir si peri. Melumat dan mengulum bibir si peri. Kedua lidah saling bertautan merengkuh nikmatnya berciuman bibir.

Sedikit demi sedikit si peri membuka kedua pahanya lebar-lebar. Otot-otot kemaluannya ikut tertarik dan membuat lubang vaginanya menganga lebih lebar. Penis Pinokio yang sudah menggesek-gesek bagian luar kemaluan si peri seperti mendapat undangan masuk. Si peri melepas ciuman bibirnya pada bibir Pinokio. Sambil mendesah ia memerintahkan Pinokio.

"Sshh... Aahh.. Cepat masukkan penismu ke dalam vaginaku... Ohh.. Ayo masukin Pinokio.. Sshh.."

Pinokio lantas memegang penisnya dan mengarahkannya pada lubang vagina si peri. Pinokio dapat merasakan ujung penisnya sudah masuk tapi ia merasa kesulitan untuk memasukkan keseluruhannya.

"Ayo dorong lagi Pinokio... Ahh..", pinta si peri.

Pinokio mendorong pinggulnya dan separoh penisnya terbenam dalam rongga kenikmatan. Penisnya terasa terjepit oleh pintu rongga namun terasa nikmat. Dan si peri merasa rongga vaginanya tersibak oleh batang milik Pinokio. Tanpa diminta lagi Pinokio menarik sedikit pinggulnya dan mendorongnya lebih kuat lagi. Dan lagi. Hingga seluruh penisnya benar-benar terbenam dalam vagina si peri.

"Ahh...", desah si peri merasakan lubang vaginanya benar-benar terisi sepenuhnya oleh penis Pinokio. Dinding-dinding vaginanya mencengkeram penis Pinokio dengan kehangatan yang basah.
"Ohh.. Rasanya enak sekali.. Ohh peri.. Nyaman", bisik Pinokio tepat di telinga si peri.

Kedua kaki si peri segera mengait pada bagian belakang kaki Pinokio. Si peri juga menggoyang-goyangkan pinggulnya sedemikian rupa. Pinokio masih mencerna rasa tersebut dan belum bergerak lagi sedikit pun. Tapi gesekan antar kulit di sekujur tubuhnya dan tubuh si peri dapat terasa hebat meski pinggul si peri cuma bergoyang sedikit. Pinokio segera mengikuti si peri dengan menggerakkan pinggulnya maju mundur. Gesekan diantara keduanya makin seru. Penis Pinokio maju mundur bergesek dengan dinding vagina si peri. Diiringi desah dan nafas-nafas berat yang saling memburu, mereka berdua hanyut dalam permainan saling menggesek.

Si peri merangkul tubuh Pinokio. Seakan tak kenal lelah, mulut Pinokio juga terus membuat kuluman-kuluman nikmat dengan berpindah-pindah tempat di sekitar leher dan wajah si peri. Sementara vagina si peri merasakan gesekan penis Pinokio, bagian tubuh lainnya juga tak kalah nikmat oleh gesekan badan Pinokio yang masih menindihnya. Kedua belah buah dadanya mendongkrak dada Pinokio. Putingnya saling bersinggungan, perut juga saling menempel, bahkan pelir Pinokio ikut menghantuk bagian selakangan si peri.

Tiap aksi menimbulkan reaksi. Saling gesek menimbulkan panas. Panasnya nafsu mengobarkan kenikmatan. Menjalar ke seluruh tubuh, meregangkan ikatan dan melepas beban hasrat yang mereka pikul selama ini. Peluh nikmat keluar dari pori-pori keringat. Saling larut dalam sebuah semangat menuju puncak kenikmatan.

Tiba-tiba rangkulan tangan si peri makin erat. Jepitan kakinya juga makin kencang. Menahan erat-erat gerak Pinokio pada dorongan yang paling dalam. Tubuh Pinokio pun turut mengejang. Dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya mencapai titik tertinggi kenikmatan. Saling berdenyut memicu satu sama lainnya. Muntahan dan semprotan kedua cairan kepuasan bercampur menjadi satu dan membanjiri liang vagina si peri. Pinokio dan si peri telah merengkuh sebuah kepuasan dan selangit kenikmatan bersama-sama.

Menjelang fajar, keduanya tidur bersama dalam sebuah selimut kenikmatan setelah meakukan pergumulan hebat.

****

Sejak itu nama Pinokio seolah lenyap dari peredaran. Konon ia ikut terbang bersama si peri balik ke negerinya. Gosip lain menyebutkan bahwa Pinokio menjadi pengusaha 'sex shop' pertama di dunia. Tak ada yang tahu kisah sebenarnya...

Sementara itu teman Pinokio yang bernama Gigolo menjadi sebuah inpirasi sebutan dari pemuas nafsu para wanita kesepian. Tak ketinggalan si Hostesla juga ikut menjadi inspirasi sebutan dari para wanita yang menjadi teman kencan bagi pria-pria hidung belang.

Yang terakhir... Inspirasi dari semua itu hanyalah sebuah kisah fantasi saja.




Artikel yang bikin Konti Tegang Lain-nya:

Widget by [ Iptek-4u ]

0 komentar:

Poskan Komentar